Instrumen musik multitonal tradisional Sunda yang dibuat dari pipa-pipa bambu yang disusun dalam kerangka khusus. Suara dihasilkan dengan cara menggoyangkan tabung bambu sedemikian rupa sehingga benturan antar-pipa menghasilkan bunyi bergetar dalam susunan nada tertentu. Dalam akar sejarahnya, angklung lahir dari ritus agraris masyarakat Sunda kuno sebagai media penghormatan kepada Nyai Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Padi) untuk memohon kesuburan tanah dan keberhasilan panen.
Mutiara Assyifa_MRA 2024_PSIK DStruktur fisik bangunan rumah tinggal tradisional masyarakat Sunda dengan model atap Badak Heuay memiliki arti etimologis "badak yang sedang menguap". Karakteristik utama arsitektur ini terletak pada bidang atap bagian belakang yang meluncur langsung ke bawah, sementara bagian atap depan memiliki potongan penutup tambahan (topi) yang melewati batang suhunan (puncak atap) sehingga menciptakan bentuk menyerupai rahang badak yang sedang terbuka.
Bentuk arsitektur purba Sunda yang dinamakan Capit Gunting mengambil inspirasi dari bentuk hiasan atapnya yang menggunakan dua bilah bambu atau kayu yang dipasang menyilang di ujung atas pembatas atap. Penyilangan ini membentuk ruang silang yang menyerupai alat penjepit atau gunting yang terbuka. Struktur dasar atapnya sendiri mengadopsi model pelana memanjang yang sederhana.
Model rumah adat Jolopong memiliki makna filosofis "tergolek lurus" atau "lurus memanjang". Ini merupakan bentuk rumah adat Sunda yang paling dasar, sederhana, dan paling banyak dijumpai di area pedesaan Jawa Barat karena kepraktisannya. Atapnya berbentuk pelana miring standar dengan dua bidang atap yang dipisahkan oleh satu jalur suhunan lurus di tengah tanpa ada lekukan atau tambahan ornamen arsitektural yang kompleks.
Model arsitektur Julang Ngapak secara etimologis memiliki arti "burung julang yang sedang mengepakkan sayapnya". Karakteristik visual yang paling menonjol adalah bentuk atapnya yang melebar di kedua sisi kiri dan kanan dengan sudut kelandaian yang melengkung di bagian ujungnya, menyerupai gerakan sayap burung yang sedang terbang. Pada bagian puncak atap (suhunan), terdapat hiasan silang berbentuk huruf X atau cabang pohon yang disebut Cagak Gunting sebagai simbol penolak bala.
Bentuk rumah adat Parahu Kumureb memiliki arti harfiah "perahu yang telungkup atau terbalik". Struktur atap bangunan ini mengadopsi bentuk trapesium di bagian bidang depan dan belakang, serta berbentuk segitiga sama kaki di sisi kiri dan kanannya, menyerupai model atap perisai modern.
Model arsitektur rumah tradisional Sunda jenis Togog Anjing diadopsi dari istilah bahasa Sunda yang berarti "anjing yang sedang duduk atau jongkok". Ciri khas utama bangunan ini adalah struktur atapnya yang memiliki dua lapis (suhunan ganda). Atap bagian atas berbentuk segitiga pelana, sedangkan atap bagian bawah—yang menyambung langsung—berfungsi sebagai peneduh teras depan (sorondoy).
Pameran arsip digital ini menguraikan kekayaan warisan leluhur tanah Pasundan yang bersahaja. Menampilkan pendar-pendar keindahan dari arsitektur rumah adat hingga riuh bunyi dan rasa kesenian Sunda. Kumpulan arsip digital, dokumentasi visual, rekaman multimedia, dan informasi tekstual terstruktur yang merekam kompleksitas warisan budaya bendawi dan non-bendawi (tangible and intangible heritage) masyarakat Sunda di Jawa Barat. Khazanah arsip dalam fonds ini memetakan identitas dan kearifan lokal tanah Pasundan melalui 3 (tiga) pilar klasifikasi utama, yaitu arsitektur bangunan tradisional vernakular (suhunan), seni pertunjukan rakyat (sora), serta tradisi gastronomi lokal (rasa).
Mutiara Assyifa_MRA 2024_PSIK DKuliner tradisional khas Sunda yang menyajikan berbagai macam sayuran segar dalam kondisi mentah (atatah), seperti kacang panjang, mentimun, tauge, terong gelatik, kol, dan daun kemangi (surawung), dengan siraman saus bumbu kacang tanah yang diulek bersama kencur, cabai, gula merah, dan terasi.
Penganan tradisional khas Sunda berbentuk balok persegi panjang tebal yang dibuat dari adonan tepung terigu, telur, susu, margarin, dan gula pasir. Keunikan utama penganan legendaris ini terletak pada metode pemanggangannya yang menggunakan cetakan logam khusus, di mana sumber panas arang kayu diletakkan secara simultan di dua sisi: di bawah cetakan dan di atas penutup cetakan arang (panggangan atas-bawah). Teknik ini menghasilkan kematangan kue yang khas dengan tekstur luar yang padat namun memiliki bagian dalam yang lembut.