Pembangunan Stadion Utama Gelora Bung Karno dimulai pada 8 Februari 1960 dan selesai pada 21 Juli 1962 sebagai persiapan penyelenggaraan Asian Games 1962. Stadion ini dibangun dengan dukungan kredit lunak dari Uni Soviet dan menjadi salah satu proyek arsitektur terbesar di Indonesia pada masanya. Keunikan stadion terlihat pada konstruksi atap baja berbentuk cincin raksasa yang dikenal sebagai “temu gelang”, simbol kemegahan sekaligus pelindung penonton dari panas dan hujan. Pada tahun 1962, stadion ini menjadi salah satu stadion sepak bola pertama di dunia dengan konsep atap melingkar raksasa.
Salah satu dokumentasi paling terkenal memperlihatkan Soekarno menghadiri peresmian Stadion Utama GBK pada 21 Juli 1962, menjelang pelaksanaan Asian Games IV di Jakarta. Stadion ini menjadi simbol kemajuan Indonesia modern dan proyek mercusuar nasional yang didukung Uni Soviet.
Indonesia menjadi tuan rumah Asian Games dan Asian Para Games pada 2018 dan Stadion Utama Gelora Bung Karno dipilih sebagai stadion utama penyelenggaraan kedua pesta olahraga tersebut. Karena usia stadion ini yang melewati lebih dari 60 tahun, pemerintah melakukan perbaikan untuk stadion untuk memenuhi kriteria sesuai standar Dewan Olimpiade Asia. Semua bangku panjang kayu dibuang dan diganti dengan kursi tunggal, akhirnya membuatnya menjadi stadion all-seater. Sistem pencahayaannya ditingkatkan dari 1200 lux menjadi 3500 lux